Upaya tidak ada habisnya, cucuran keringat dan darah petani untuk menyediakan hasil bumi bagi seluruh negeri. Saatnya kita semua saling peduli dan meraih berkah bersama.

Editorial: Agribisnis yang Memihak

Senin, 9 November 2009 10:47:59

Semai Edisi I
Secara faktual, sistem agribisnis saat ii berada pada level yang sangat makro dan jauh dari jangkauan peran dan manajemen di tingkat petani. Sehingga aspek kemandirian petani masih pada tataran asumsi "sendainya mereka mampu mengakses semua sumberdaya dari subsistem agribisnis tersebut".

Seperti yang terjadi pada petani bawang merah di Brebes, kelembagaan agribisnis yang ada justru bersifat eksploitatif dan melemahkan petani pada posisinya. Petani kecil dan buruh tani menjadi pihak yang termarjinalkan dan menjadi objek penderita atas keputusan yang dibuat oleh struktur di atasnya. Harga sewa lahan,besaran bagi hasil, harga faktor produksi, harga produk, ketersediaan modal dan lain sebagainya adalah komponen yang berada di luar kendali petani secara umum. Akibatnya, marjin ekonomi dari agribisnis bawang merah yang diterima petani menjadi sangat kecil atau bahkan negatif.

Belum lagi masalah rendahnya kualitas sumberdaya manusia yang mengakibatkan rendahnya tingkat inovasi dan cenderung mengikuti pola usahatani yang monoton dan tidak ramah lingkungan. Ketergantungan petani pada penggunaan input pertanian kimiawi yang menjadikan lingkungan pertanian semakin tidak sehat. Dan dikhawatirkan, krisis ekologi berupa kerusakan lingkungan budidaya akan semakin menambah risiko kegagalan yang harus ditanggung oleh petani.

Kondisi diatas sangat bertolak belakang dengan fakta bahwa petani bawang
merah di Brebes adalah profil petani yang memiliki etos kerja yang sangat tinggi. Mereka menggarap lahan mereka sebanyak empat musim tanam. Tiga musim tanam bawang merah dan semusim padi. Budidaya bawang merah adalah salah satu budidaya tanaman yang kebutuhan faktor produksi tenaga kerjanya sangat besar. Hal itu membuat karakter petani bawang merah Brebes sebagai pekerja keras. Namun pada akhirnya, semangat dan karakter tersebut belum bisa menjawab tuntutan hasil yang diharapkan berupa kesejahteraan dan kemandirian.

Pemberdayaan adalah salah satu langkah yang diharapkan mampu memberi
dukungan kepada petani untuk mandiri. Kemandirian dalam sebuah komunitas petani yang saling mendukung dan menguatkan dalam upaya memperoleh kesejahteraannya. Kemandirian yang berarti berubahnya posisi komunitas petani dari sebagai objek dalam sistem agribisnis bawang merah menjadi subjek. Sehingga pada akhirnya akan terbentuk kesatuan sistem agribisnis yang mandiri di level komunitas petani. Membangun kemandirian pertanian, dari sebuah sudut pandang, berarti membangun kelengkapan dan kemandirian sistem agribisnis. Yaitu cara lain untuk melihat pertanian sebagai suatu sistem bisnis yang terdiri dari beberapa subsistem yang terkait satu sama lain. Dalam agribisnis dikenal konsep agribisnis sebagai suatu sistem dan agribisnis sabagai suatu usaha (perusahaan). Sudah selayaknya pengembangan agribisnis saat ini mengacu pada basis pemberdayaan, sehingga petani yang selama ini tidak mampu mengakses sumberdaya dapat terberdayakan. Mampukah kita mewujudkan agribisnis yang memihak petani kecil? Mestinya mampu, asal ada kemauan dari semua pihak, bukan hanya petani!

kirim ke teman | versi cetak

Semai Lainnya