Catatan Pelatihan Budidaya Padi Sehat dan Praktek Pembuatan Kompos di Cluster Cianjur
Griya Tani Sehat Desa Sukaraharja – Cianjur, Pelatihan budidaya padi sehat dan praktek pembuatan kompos menjadi kebutuhan petani di cluster Cianjur karena akan memasuki musim tanam padi pada bulan November. Cluster Cianjur merupakan wilayah binaan baru LPS dan saat ini mereka masih melakukan budidaya padi secara konvensional dengan menggunakan pestisida dan pupuk kimia. Oleh karena itu, pelatihan budidaya padi sehat sangat penting dilakukan di Cianjur sebagai langkah awal transfer teknologi pertanian ramah lingkungan yang dikembangkan oleh LPS selama ini. Pelatihan budidaya padi sehat dan pembuatan kompos yang dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2009 bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai konsep maupun teknologi pertanian sehat dan pembuatan kompos sehingga petani mampu mempraktekkan budidaya padi sehat dan pembuatan kompos dilapangan secara mandiri dan berkelompok. Pelatihan budidaya padi sehat dibagi menjadi dua sesi yaitu pemberian teori budidaya padi sehat dan praktek pembuatan kompos.
Acara dimulai dengan pembukaan oleh pendamping Cianjur Ayi Rachmat dilanjutkan dengan sambutan oleh general manager program Casdimin SP. Peserta dari pelatihan pertanian sehat ini yaitu petani P3S dari Cianjur sebanyak 55 orang dan siswa dari Yayasan Pesantren Miftahul Falah (YPMF) sebanyak 15 orang. Acara pelatihan dibuka dengan pemberian materi pelatihan terlebih dahulu oleh Kuswolo Darmo sebagai manager penelitian dan pengembangan, teori yang pertama adalah mengenai cara budidaya padi sehat. Budidaya padi yang saat ini dilakukan oleh petani di daerah Sukaraharja umumnya masih konvensional dengan penggunaan pestisida kimia dan pupuk kimia yang berlebihan. Untuk itu, diberikan pemahaman kepada petani untuk melaksanakan budidaya pertanian sehat secara ramah lingkungan tanpa menggunakan pestisida kimia dan menurunkan dosis penggunaan pupuk kimia yang seharusnya diberikan sesuai kebutuhan tanaman. Selanjutnya disampaikan cara menguji tanah sawah dengan menggunakan PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah) dari salah satu petak sawah di daerah tersebut, hasil pengujian menunjukkan kandungan unsur hara N tinggi, unsur P dan K rendah. Jadi petani di lahan sawah tersebut selama ini terlalu banyak memberikan pupuk Urea (N). Selain mengurangi pemberian pupuk kimia, petani disarankan untuk menggunakan kompos sebagai pupuk dasar dalam pengolahan tanah. Manfaat kompos sangat tinggi yaitu untuk mengembalikan kesuburan tanah, sebagai bahan makanan mikroorganisme yang menguntungkan seperti cacing dan musuh alami; juga memberikan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman.
Teori selanjutnya yaitu pengenalan pestisida nabati yang dibawakan oleh Ida Farida. Untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia, maka dikenalkan pestisida nabati. Kelebihan pestisida nabati yaitu murah, mudah, dan tidak mencemari lingkungan. Pestisida nabati dapat menggunakan bahan tanaman yang ada disekitar daerah tersebut, seperti daun Tuba, daun Tephrosia, daun Babadotan, daun sirsak, daun seray, Petay, Jengkol, dll. Masing-masing bahan pestisida nabati dapat diaplikasikan pada satu jenis hama atau pun dapat dicampurkan antara bahan yang satu dengan bahan yang lain. Kelemahan pestisida nabati yaitu mudah terdegradasi dialam sehingga penggunaannya harus sesering mungkin jika populasi hama tinggi.
Masalah hama dan penyakit tanaman sering menjadi kendala dalam budidaya tanaman, karena pengaruh pola pikir petani yang belum puas kalau tidak menyemprot pestisida kimia. Dari alasan itulah maka terjadi resistensi hama (hama menjadi kebal), resurjensi hama (ledakan hama baru), pencemaran lingkungan dan merugikan kesehatan. Untuk itu petani diberikan ilmu pengenalan hama dan penyakit utama pada padi untuk mengenal lebih jauh hama dan penyakit dikaitkan dengan penggunaan pestisida. Teori hama dan penyakit utama pada tanaman padi diberikan oleh Eneng Rina Agustina. Hama utama yang menjadi permasalahan di petani yaitu penggerek batang padi, wereng cokelat dan wereng hijau, walang sangit, keong mas, dan tikus. Sedangkan penyakit utama yang menjadi kendala dalam budidaya padi yaitu hawar daun bakteri/kresek yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris dan blast yang disebabkan oleh cendawan Pyricularia oryzae.
Pengendalian hama dan penyakit yang saat ini dikembangkan oleh LPS yaitu untuk mengendalikan penggerek batang padi menggunakan Nematoda Patogen Serangga (NPS), walang sangit dan wereng dapat menggunakan Pestisida Nabati (PASTI), keong mas dan tikus dapat dilakukan dengan cara kultur teknis dan mekanis dapat menggunakan sistem padi legowo yang dapat mengontrol keberadaan hama tersebut. Untuk masalah penyakit, petani dapat memilih benih padi bersertifikat tahan terhadap penyakit, dan dapat menggunakan PGPR pada saat penyemaian benih padi untuk memberikan ketahanan pada tanaman padi. pengurangan pemberian pupuk kimia N seperti urea dapat menurunkan jumlah penyakit dilapang. Acara dilanjutkan dengan diskusi dari petani dan tim Litbang LPS.
Kegiatan selanjutnya yaitu praktek pembuatan kompos secara anaerob dan aerob. Kompos dapat dibuat dengan cara anaerob dan aerob, perbedaan dari keduanya yaitu bakteri yang digunakan dalam kompos anaerob tidak memerlukan udara dalam proses penguraian bahan organik menjadi kompos. Sebaliknya bakteri yang digunakan dalam kompos aerob memerlukan udara dalam proses penguraian bahan organik menjadi kompos. Setelah membuat kompos anaerob, petani di Desa Sukaraharja Cianjur tersebut selanjutnya membuat kompos aerob. Petani sangat bersemangat dalam pembuatan kompos anaerob dan aerob. Karena waktu yang sangat terbatas, maka praktek pembuatan pestisida nabati dilakukan sendiri oleh petani di waktu yang lain. [Nenk]

Visitors :137256 Org
Hits : 342807 hits
Month : 757 Users
