Upaya tidak ada habisnya, cucuran keringat dan darah petani untuk menyediakan hasil bumi bagi seluruh negeri. Saatnya kita semua saling peduli dan meraih berkah bersama.

Sarasehan Dan Pelatihan Mengenal Ekologi Tanah Ala Petani P3s Binaan Lembaga Pertanian Sehat

Jum`at, 11 September 2009 15:05:43

Saung Tani Gapoktan Silih Asih, Ciburuy Bogor – Tanggal  13 Agustus 2009 merupakan hari yang sangat istimewa untuk petani mitra LPS dari  daerah Brebes Utara, Brebes Selatan dan Cianjur. Kenapa demikian, karena sekian  lama petani mitra dari daerah tersebut ingin sekali studi banding ke daerah  Bogor dan ingin lebih mengenal pertanian yang sudah dijalankan dengan  menggunakan teknologi dari LPS oleh petani mitra yang ada di Bogor. Dengan  demikian Divisi Penelitian dan Pengembangan LPS-DD mengadakan dua kegiatan  sekaligus yaitu sarasehan akbar dan pelatihan ekologi tanah. Kegiatan tersebut  bertujuan untuk lebih mendekatkan petani mitra yang ada dibeberapa daerah untuk  serta transfer ilmu dan teknologi yang sudah dijalankan selama ini, selain itu  peserta dibekali dengan pelatihan ekologi tanah yang dapat dijadikan ilmu dasar  dalam budidaya pertanian.
  Kegiatan pertama diisi dengan kunjungan peserta ke  pabrikasi kompos dan gudang penggilingan padi beras SAE di Saung Tani Gapoktan  Silih Asih Ciburuy Bogor. Peserta yang berjumlah 90 orang dibagi menjadi  beberapa kelompok dan masing-masing kelompok didampingi oleh satu orang tim  dari LPS. Peserta diajak berkeliling oleh tim LPS untuk melihat proses  pembuatan kompos (OFER) milik Bpk. H. Zakaria sebagai ketua Gapoktan Silih  Asih. Peserta dapat berdiskusi dengan tim dari LPS mengenai proses pembuatan  kompos tersebut. Setelah diajak berkeliling melihat pembuatan kompos, petani  diajak ke tempat penggilingan padi untuk menghasilkan produk beras SAE. Petani  memperhatikan dengan seksama bagaimana proses pembuatan beras SAE dari mulai  benih padi ditanam dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan sampai  menghasilkan produk beras SAE. Selanjutnya peserta diajak melihat proses  sortasi beras SAE dari mulai pengayakan, menampi dan proses pengemasan beras  SAE. Dalam kegiatan ini masing-masing kelompok didampingi  oleh petani binaan dari Bogor sebagai tuan  rumah.
Selanjutnya  petani dikumpulkan dalam satu aula pertemuan untuk mengikuti kegiatan sarasehan  umum (tukar informasi dan pengalaman) diantara sesama petani mitra yang  tergabung dalam Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Brebes Utara, Brebes Selatan,  Cianjur dan Bogor sebagai tuan rumah. Sebagai pembicara dari sarasehan umum ini  yaitu masing-masing ketua Gapoktan dari masing-masing daerah yang di moderatori  oleh Casdimin, SP. Masing-masing ketua Gapoktan menyampaikan pengalamannya  selama menjadi petani mitra LPS. Peserta yang lain sangat antusias mendengarkan  penjelasan dari masing-masing ketua Gapoktan tersebut, karena salah satu dari  ketua Gapoktan  dari Bogor memberikan  motivasi dan semangat kepada ketua Gapoktan dan peserta yang lain. Sarasehan  diisi juga dengan diskusi. Tidak terasa sarasehan umum telah berjalan selama  satu jam, kemudian peserta beristirahat untuk acara selanjutnya.

Setelah  peserta beristirahat, sholat Dzuhur dan makan siang, acara dilanjutkan dengan  pelatihan ekologi tanah yang diisi oleh pembicara dari Yayasan Nastari Bogor  Ir. Heri Prasetyo dan Napiudin, SP. Acara dibuka dengan presentasi dari  pembicara mengenai ekologi tanah, kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan  menonton video tentang ekologi tanah. Peserta sedikit mengantuk karena teori  yang diberikan terlalu banyak, akhirnya pembicara mengajak peserta untuk  praktek langsung membuat alat-alat sederhana untuk mengetahui kandungan bahan  organik dalam tanah, struktur tanah, tekstur tanah, uji hantar listrik tanah,  kemampuan mengikat air dalam tanah, uji daya serap dan hisap dalam tanah, dll.  Peserta dianjurkan untuk membuat alat-alat penguji tanah tersebut sendiri,  dengan alat dan bahan yang telah disediakan oleh panitia. Peserta pelatihan  dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok membuat satu alat penguji tanah.  Dengan sedikit lomba membuat alat, peserta dapat mencoba menguji daya hantar  listrik sendiri dengan menggunakan sampel tanah yang telah mereka bawa dari daerah  masing-masing.

Dari  hasil pengujian dengan menggunakan alat uji daya hantar listrik pada beberapa  sampel tanah, pupuk kompos dan pupuk kimia dihasilkan pupuk kompos OFER produksi  LPS memiliki daya hantar listrik paling tinggi dibandingkan dengan pupuk kimia  yang beredar dipasaran. Hal ini berhubungan dengan pentingnya pupuk kompos  dalam menyuburkan tanah. Semakin subur tanah yang diuji, semakin terang nyala  lampu. Sebaliknya semakin redup nyala lampu pada alat tersebut, semakin tidak  subur tanah yang diuji. Dari pengujian selama praktek pelatihan, tanah yang  paling subur berturut-turut dari daerah Bogor, Cianjur, dan Brebes. Solusi bagi  tanah yang kurang subur, LPS memiliki produk pupuk kompos OFER yang jika  diberikan pada tanah kurang subur pun dapat menjadi subur, dibuktikan dengan  terangnya nyala lampu pada tanah Brebes yang kurang subur setelah ditambahkan  OFER. Petani sangat senang dengan adanya pelatihan ini ditambah lagi dengan  diberikannya alat-alat tersebut secara cuma-cuma untuk dibawa pulang dan agar  dipraktekkan didaerah masing-masing. Diharapkan setelah mengikuti pelatihan  ini, peserta dapat mengajarkan ilmu tersebut kepada petani mitra yang tidak  ikut dalam pelatihan ini. Selain alat untuk menguji daya hantar listrik, petani  juga diajarkan untuk mengetahui kandungan bahan organik dalam tanah.

Alat  yang digunakan sangat sederhana dengan menggunakan kantong plastik bening yang  diisi sampel tanah dari masing-masing daerah yang dicampur dengan air, kemudian  dikocok sampai merata. Setelah tanah bercampur dengan air, ujung kantong  plastik tersebut diikat dengan tali dan digantung di tiang. Diamkan selama  beberapa jam, sampai air yang terletak diatas permukaan tanah menjadi bening.  Semakin keruh air yang dihasilkan dari pengujian ini, semakin banyak kandungan  bahan organik dalam tanah. Sebaliknya semakin jernih air yang dihasilkan  semakin rendah kandungan bahan organik dalam tanah.

Dari  hasil pengamatan beberapa sampel tanah yang diuji, tanah dari daerah Bogor 1  (Ciburuy) memiliki kandungan bahan organik paling tinggi, kemudian disusul  dengan  daerah Bogor 2 (Cigombong),  Cianjur 1 (Cikandang), Cianjur 2 (Sukaraharja), Brebes 1 (organik), dan yang  terakhir Brebes 2 (anorganik) yang memiliki kandungan bahan organik terendah.  Hal ini dikaitkan dengan jenis tanah dari Brebes 2 yang memiliki jenis tanah  liat dan debu juga penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang tinggi  dibandingkan dengan jenis tanah dari daerah yang lain. Pelatihan ekologi tanah  berjalan selama 3,5 jam. Dengan waktu yang lumayan panjang, peserta memperoleh  ilmu baru yang bermanfaat dan akan diterapkan dalam budi daya pertanian di daerahnya  masing-masing.

“  Setelah mengikuti kegiatan ini Kami mendapatkan ilmu dan wawasan yang sangat  berharga bagi seluruh anggota kelompok tani. Mungkin bisa dikatakan orientasi  petani yang tidak dapat dilupakan sampai kapan pun dan bisa dijadikan sejarah  bagi anggota dan keturunan Kami. Ilmu dan pengalaman yang didapat menjadi  wawasan bagi Kami dan akan Kami bagi untuk anak dan cucu Kami “, ituah kesan  yang terpatri dalam hati petani dari Brebes Selatan. (Nenk)

Dokumentasi Acara :

                                                             
Sarasehan Dan PelatihanSarasehan Dan PelatihanSarasehan Dan Pelatihan
Sarasehan Dan PelatihanSarasehan Dan PelatihanSarasehan Dan Pelatihan
Sarasehan Dan PelatihanSarasehan Dan PelatihanSarasehan Dan Pelatihan
Sarasehan Dan PelatihanSarasehan Dan PelatihanSarasehan Dan Pelatihan

kirim ke teman | versi cetak

Kegiatan Lainnya