Sarasehan Dan Pelatihan Mengenal Ekologi Tanah Ala Petani P3s Binaan Lembaga Pertanian Sehat
Saung Tani Gapoktan Silih Asih, Ciburuy Bogor – Tanggal 13 Agustus 2009 merupakan hari yang sangat istimewa untuk petani mitra LPS dari daerah Brebes Utara, Brebes Selatan dan Cianjur. Kenapa demikian, karena sekian lama petani mitra dari daerah tersebut ingin sekali studi banding ke daerah Bogor dan ingin lebih mengenal pertanian yang sudah dijalankan dengan menggunakan teknologi dari LPS oleh petani mitra yang ada di Bogor. Dengan demikian Divisi Penelitian dan Pengembangan LPS-DD mengadakan dua kegiatan sekaligus yaitu sarasehan akbar dan pelatihan ekologi tanah. Kegiatan tersebut bertujuan untuk lebih mendekatkan petani mitra yang ada dibeberapa daerah untuk serta transfer ilmu dan teknologi yang sudah dijalankan selama ini, selain itu peserta dibekali dengan pelatihan ekologi tanah yang dapat dijadikan ilmu dasar dalam budidaya pertanian.
Kegiatan pertama diisi dengan kunjungan peserta ke pabrikasi kompos dan gudang penggilingan padi beras SAE di Saung Tani Gapoktan Silih Asih Ciburuy Bogor. Peserta yang berjumlah 90 orang dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok didampingi oleh satu orang tim dari LPS. Peserta diajak berkeliling oleh tim LPS untuk melihat proses pembuatan kompos (OFER) milik Bpk. H. Zakaria sebagai ketua Gapoktan Silih Asih. Peserta dapat berdiskusi dengan tim dari LPS mengenai proses pembuatan kompos tersebut. Setelah diajak berkeliling melihat pembuatan kompos, petani diajak ke tempat penggilingan padi untuk menghasilkan produk beras SAE. Petani memperhatikan dengan seksama bagaimana proses pembuatan beras SAE dari mulai benih padi ditanam dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan sampai menghasilkan produk beras SAE. Selanjutnya peserta diajak melihat proses sortasi beras SAE dari mulai pengayakan, menampi dan proses pengemasan beras SAE. Dalam kegiatan ini masing-masing kelompok didampingi oleh petani binaan dari Bogor sebagai tuan rumah.
Selanjutnya petani dikumpulkan dalam satu aula pertemuan untuk mengikuti kegiatan sarasehan umum (tukar informasi dan pengalaman) diantara sesama petani mitra yang tergabung dalam Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Brebes Utara, Brebes Selatan, Cianjur dan Bogor sebagai tuan rumah. Sebagai pembicara dari sarasehan umum ini yaitu masing-masing ketua Gapoktan dari masing-masing daerah yang di moderatori oleh Casdimin, SP. Masing-masing ketua Gapoktan menyampaikan pengalamannya selama menjadi petani mitra LPS. Peserta yang lain sangat antusias mendengarkan penjelasan dari masing-masing ketua Gapoktan tersebut, karena salah satu dari ketua Gapoktan dari Bogor memberikan motivasi dan semangat kepada ketua Gapoktan dan peserta yang lain. Sarasehan diisi juga dengan diskusi. Tidak terasa sarasehan umum telah berjalan selama satu jam, kemudian peserta beristirahat untuk acara selanjutnya.
Setelah peserta beristirahat, sholat Dzuhur dan makan siang, acara dilanjutkan dengan pelatihan ekologi tanah yang diisi oleh pembicara dari Yayasan Nastari Bogor Ir. Heri Prasetyo dan Napiudin, SP. Acara dibuka dengan presentasi dari pembicara mengenai ekologi tanah, kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan menonton video tentang ekologi tanah. Peserta sedikit mengantuk karena teori yang diberikan terlalu banyak, akhirnya pembicara mengajak peserta untuk praktek langsung membuat alat-alat sederhana untuk mengetahui kandungan bahan organik dalam tanah, struktur tanah, tekstur tanah, uji hantar listrik tanah, kemampuan mengikat air dalam tanah, uji daya serap dan hisap dalam tanah, dll. Peserta dianjurkan untuk membuat alat-alat penguji tanah tersebut sendiri, dengan alat dan bahan yang telah disediakan oleh panitia. Peserta pelatihan dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok membuat satu alat penguji tanah. Dengan sedikit lomba membuat alat, peserta dapat mencoba menguji daya hantar listrik sendiri dengan menggunakan sampel tanah yang telah mereka bawa dari daerah masing-masing.
Dari hasil pengujian dengan menggunakan alat uji daya hantar listrik pada beberapa sampel tanah, pupuk kompos dan pupuk kimia dihasilkan pupuk kompos OFER produksi LPS memiliki daya hantar listrik paling tinggi dibandingkan dengan pupuk kimia yang beredar dipasaran. Hal ini berhubungan dengan pentingnya pupuk kompos dalam menyuburkan tanah. Semakin subur tanah yang diuji, semakin terang nyala lampu. Sebaliknya semakin redup nyala lampu pada alat tersebut, semakin tidak subur tanah yang diuji. Dari pengujian selama praktek pelatihan, tanah yang paling subur berturut-turut dari daerah Bogor, Cianjur, dan Brebes. Solusi bagi tanah yang kurang subur, LPS memiliki produk pupuk kompos OFER yang jika diberikan pada tanah kurang subur pun dapat menjadi subur, dibuktikan dengan terangnya nyala lampu pada tanah Brebes yang kurang subur setelah ditambahkan OFER. Petani sangat senang dengan adanya pelatihan ini ditambah lagi dengan diberikannya alat-alat tersebut secara cuma-cuma untuk dibawa pulang dan agar dipraktekkan didaerah masing-masing. Diharapkan setelah mengikuti pelatihan ini, peserta dapat mengajarkan ilmu tersebut kepada petani mitra yang tidak ikut dalam pelatihan ini. Selain alat untuk menguji daya hantar listrik, petani juga diajarkan untuk mengetahui kandungan bahan organik dalam tanah.
Alat yang digunakan sangat sederhana dengan menggunakan kantong plastik bening yang diisi sampel tanah dari masing-masing daerah yang dicampur dengan air, kemudian dikocok sampai merata. Setelah tanah bercampur dengan air, ujung kantong plastik tersebut diikat dengan tali dan digantung di tiang. Diamkan selama beberapa jam, sampai air yang terletak diatas permukaan tanah menjadi bening. Semakin keruh air yang dihasilkan dari pengujian ini, semakin banyak kandungan bahan organik dalam tanah. Sebaliknya semakin jernih air yang dihasilkan semakin rendah kandungan bahan organik dalam tanah.
Dari hasil pengamatan beberapa sampel tanah yang diuji, tanah dari daerah Bogor 1 (Ciburuy) memiliki kandungan bahan organik paling tinggi, kemudian disusul dengan daerah Bogor 2 (Cigombong), Cianjur 1 (Cikandang), Cianjur 2 (Sukaraharja), Brebes 1 (organik), dan yang terakhir Brebes 2 (anorganik) yang memiliki kandungan bahan organik terendah. Hal ini dikaitkan dengan jenis tanah dari Brebes 2 yang memiliki jenis tanah liat dan debu juga penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang tinggi dibandingkan dengan jenis tanah dari daerah yang lain. Pelatihan ekologi tanah berjalan selama 3,5 jam. Dengan waktu yang lumayan panjang, peserta memperoleh ilmu baru yang bermanfaat dan akan diterapkan dalam budi daya pertanian di daerahnya masing-masing.
“ Setelah mengikuti kegiatan ini Kami mendapatkan ilmu dan wawasan yang sangat berharga bagi seluruh anggota kelompok tani. Mungkin bisa dikatakan orientasi petani yang tidak dapat dilupakan sampai kapan pun dan bisa dijadikan sejarah bagi anggota dan keturunan Kami. Ilmu dan pengalaman yang didapat menjadi wawasan bagi Kami dan akan Kami bagi untuk anak dan cucu Kami “, ituah kesan yang terpatri dalam hati petani dari Brebes Selatan. (Nenk)
Dokumentasi Acara :
![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() |
Visitors :137245 Org
Hits : 342772 hits
Month : 761 Users












