Beramal sholeh dengan mendukung program pertanian sehat
Ir. H. Samsudin, MSi
Pemandangan indah memanjakan mataku tatkala melakukan supervisi program pemberdayaan petani di sebuah kecamatan di kabupaten Brebes Jawa Tengah, sejauh mata memandang hamparan pertanaman bawang merah menghijau laksana permadani. Tapi sayang kekagumanku itu terganggu oleh aroma pestisida yang menyengat yang membuat kepalaku pening.
Saat bertanya kepada seorang petani yang sedang menyemprot tanamannya sambil merokok, “kenapa Bapak menyemprot tanaman dengan pestisida padahal tidak ada hama dan penyakit yang menyerang?” dengan cepat Dia menjawab “yen dhurung ngobat kula dhurung bisa turu Pak”, (kalau belum menyemprot pestisida, saya belum bisa tidur Pak ) ketika ditanya berapa uang yang dihabiskan untuk membeli pestisida tersebut, Dia hanya menjawab singkat “ya wis akeh Pak” (ya sudah banyak Pak). Penasaran aku bertanya, darimana Bapak dapat uang untuk beli pestisida itu, dengan lugu Dia menjawab “pinjem karo wong due duwit Pak, bayare angger panen, …ana bungane Pak.” (pinjam pada orang yang punya uang Pak, bayarnya kalau panen dan ada bunganya Pak). Miris aku mendengarnya.
Inilah gambaran singkat nasib salah satu komunitas petani negeriku, petani dari negeri yang dianugrahi kekayaan alam dan kesuburan tanah luar biasa dari Sang Pencipta. Mereka dijadikan objek eksploitasi oleh banyak pihak. Petani terpaksa dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak menguntungkan dirinya. Karena pengetahuannya yang terbatas tentang hama dan penyakit tanaman telah dijadikan objek ekploitasi oleh perusahaan-perusahaan pestisida kimia beserta para agen dan penjualnya. Ketidak fahaman mereka akan mekanisme pasar telah dijadikan objek ekploitasi oleh para tengkulak (bakul) dan bandar bawang (juragan). Kemiskinan mereka yang terbentuk secara sistemik turun temurun sehingga tidak lagi memiliki lahan garap sendiri, menjadikan posisi mereka lemah dalam menghadapi tekanan pemilik lahan dan para calo pencari lahan. Sehingga saat panen nanti bagi mereka tidak kalah pusingnya dengan saat mereka menanam, karena pemilik lahan, rentenir, toko pestisida dan pupuk, calo bawang, tengkulak (bakul) dan juragan bawang lah yang akan lebih banyak menikmati hasil pertanian bawang merah ini. Itu kalau panennya bagus, sementara kalau gagal panen akibat serangan hama dan penyakit, mereka tetap harus membayar semua pinjamannya. Tragis sekali.
Sebenarnya kami dari Lembaga Pertanian Sehat (LPS) Dompet Dhuafa sudah memulai program pemberdayaan dan pembelajaran petani bawang di wilayah tersebut sejak tahun 2007. Akan tetapi disebabkan terbatasnya sumberdaya baik dana maupun manusia, sampai saat ini baru sekitar 150 petani yang dapat menerima manfaat langsung dari program pengembangan pertanian sehat (P3S) LPS. Meski sedikit ternyata mereka telah mulai terlepas dari para rentenir karena P3S memberikan pinjaman modal bergulir tanpa bunga (qordlul hasan). Mereka mulai menggunakan pupuk organik (OFER) yang lebih murah dan dapat memperbaiki kesehatan dan kesuburan lahan mereka. Mereka tidak lagi menghambur-hamburkan uang untuk membeli racun kimia yang tidak perlu, sebab mereka hanya akan menyemprot tanamannya kalau diperkirakan akan merugi secara ekonomi.
Memutus mata rantai ekploitasi petani oleh banyak pihak tentu bukan hal yang ringan dan cepat selesai. Perlu pengorbanan, kesabaran dan kesungguhan. Tapi itulah nilai hidup yang sebenarnya dan bermartabat di hadapan makhluk dan kholiq, yaitu peduli kepada manusia lain dan membuat perbaikan dan kebaikan di bumi yang telah disediakan Sang Khaliq untuk seluruh makhluknya. Mengeksploitasi petani dan meracuni lahan dengan berbagai bahan kimia yang berdampak buruk bagi kesehatan manusia dan lingkungan merupakan salah satu tindakan membuat kerusakan di muka bumi. Sebaliknya membantu petani dan mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan adalah upaya membuat kebaikan dan perbaikan di muka bumi dan semoga menjadi amal sholeh bagi siapa saja yang melakukannya. Amiin.
Visitors :137254 Org
Hits : 342804 hits
Month : 758 Users
