Upaya tidak ada habisnya, cucuran keringat dan darah petani untuk menyediakan hasil bumi bagi seluruh negeri. Saatnya kita semua saling peduli dan meraih berkah bersama.

Beramal sholeh dengan mendukung program pertanian sehat

Rabu, 19 Agustus 2009 11:17:54

Ir. H. Samsudin, MSi

Pemandangan indah memanjakan  mataku tatkala melakukan supervisi program pemberdayaan petani di sebuah  kecamatan di kabupaten Brebes Jawa Tengah, sejauh mata memandang hamparan pertanaman  bawang merah menghijau laksana permadani. Tapi sayang kekagumanku itu terganggu  oleh aroma pestisida yang menyengat yang membuat kepalaku pening.

Saat bertanya kepada seorang  petani yang sedang menyemprot tanamannya sambil merokok, “kenapa Bapak menyemprot  tanaman dengan pestisida padahal tidak ada hama dan penyakit yang menyerang?” dengan  cepat Dia menjawab “yen dhurung ngobat kula dhurung bisa turu Pak”,  (kalau belum menyemprot pestisida, saya belum bisa tidur Pak ) ketika ditanya  berapa uang yang dihabiskan untuk membeli pestisida tersebut, Dia hanya  menjawab singkat “ya wis akeh Pak” (ya sudah banyak Pak). Penasaran aku  bertanya, darimana Bapak dapat uang untuk beli pestisida itu, dengan lugu Dia  menjawab “pinjem karo wong due duwit Pak, bayare angger panen, …ana bungane  Pak.” (pinjam pada orang yang punya uang Pak, bayarnya kalau panen dan ada  bunganya Pak). Miris aku mendengarnya.

Inilah gambaran  singkat nasib salah satu komunitas petani negeriku, petani dari negeri yang  dianugrahi kekayaan alam dan kesuburan tanah luar biasa dari Sang Pencipta.  Mereka dijadikan objek eksploitasi oleh banyak pihak. Petani terpaksa  dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak menguntungkan dirinya. Karena  pengetahuannya yang terbatas tentang hama  dan penyakit tanaman telah dijadikan objek ekploitasi oleh  perusahaan-perusahaan pestisida kimia beserta para agen dan penjualnya. Ketidak  fahaman mereka akan mekanisme pasar telah dijadikan objek ekploitasi oleh para tengkulak (bakul) dan bandar bawang (juragan). Kemiskinan mereka yang  terbentuk secara sistemik turun temurun sehingga tidak lagi memiliki lahan  garap sendiri, menjadikan posisi mereka lemah dalam menghadapi tekanan pemilik  lahan dan para calo pencari lahan. Sehingga saat panen nanti bagi mereka tidak  kalah pusingnya dengan saat mereka menanam, karena pemilik lahan, rentenir,  toko pestisida dan pupuk, calo bawang, tengkulak (bakul) dan juragan bawang lah yang akan lebih banyak menikmati  hasil pertanian bawang merah ini. Itu kalau panennya bagus, sementara kalau gagal  panen akibat serangan hama dan penyakit,  mereka tetap harus membayar semua pinjamannya.  Tragis sekali.

Sebenarnya kami dari Lembaga Pertanian Sehat (LPS)  Dompet Dhuafa sudah memulai program pemberdayaan dan pembelajaran petani bawang  di wilayah tersebut sejak tahun 2007. Akan tetapi disebabkan terbatasnya  sumberdaya baik dana maupun manusia, sampai saat ini baru sekitar 150 petani  yang dapat menerima manfaat langsung dari program pengembangan pertanian sehat  (P3S) LPS. Meski sedikit ternyata mereka telah mulai terlepas dari para  rentenir karena P3S memberikan pinjaman modal bergulir tanpa bunga (qordlul  hasan). Mereka mulai menggunakan pupuk organik (OFER) yang lebih murah dan  dapat memperbaiki kesehatan dan kesuburan lahan mereka. Mereka tidak lagi  menghambur-hamburkan uang untuk membeli racun kimia yang tidak perlu, sebab  mereka hanya akan menyemprot tanamannya kalau diperkirakan akan merugi secara  ekonomi.

Memutus mata rantai ekploitasi petani oleh banyak  pihak tentu bukan hal yang ringan dan cepat selesai. Perlu pengorbanan,  kesabaran dan kesungguhan. Tapi itulah nilai hidup yang sebenarnya dan  bermartabat di hadapan makhluk dan kholiq, yaitu peduli kepada manusia lain dan  membuat perbaikan dan kebaikan di bumi yang telah disediakan Sang Khaliq untuk  seluruh makhluknya.  Mengeksploitasi  petani dan meracuni lahan dengan berbagai bahan kimia yang berdampak buruk bagi  kesehatan manusia dan lingkungan merupakan salah satu tindakan membuat  kerusakan di muka bumi. Sebaliknya membantu petani dan mengembangkan pertanian  yang ramah lingkungan adalah upaya membuat kebaikan dan perbaikan di muka bumi  dan semoga menjadi amal sholeh bagi siapa saja yang melakukannya. Amiin.

kirim ke teman | versi cetak

Inspirasi Lainnya